Contoh Penggunaan Bahasa Indonesia (sebagai bahasa penyerap) dan Analisis Interferensi Fonologis, Morfologis, dan Sintaksis




Tugas : Carilah contoh penggunaan bahasa Indonesia (sebagai bahasa penyerap) dan analisislah interferensi fonologis, morfologis, dan sintaksis.
Interferensi merupakan proses masuknya unsur serapan ke dalam bahasa lain yang bersifat melanggar kaidah gramatika bahasa yang menyerap. Mengenai pengertian interferensi secara komprehensif.
Interferensi fonologi terdiri dari interferensi fonologis pengurangan, penambahan huruf, dan interferensi fonologis perubahan huruf.
Interferensi dalam bidang morfologi, antara lain, terdapat dalam pembentukan kata dengan afiks. Afiks-afiks suatu bahasa digunakan untuk membentuk kata dalam bahasa lain.
Interferensi sintaksis terjadi apabila struktur bahasa lain (bahasa daerah) digunakan dalam pembentukan kalimat bahasa yang digunakan. Penyerapan unsur kalimatnya dapat berupa kata, frase, dan klausa.

Penggunaan bahasa Indonesia:
1.      “Tadi malam Susi ketiduran karena sorenya abis kegiatan ekskul”.
Analisis:
-          Interferensi Fonologi
Interferensi fonologi terdapat pada kata habis. Kata tersebut terinterferensi fonologi bahasa Jawa, karena menghilangnya huruf /h/ pada kata habis, yang seharusnya diujarkan habis. Menghilangnya  fonem /h/ merupakan kasus interferensi fonologi, karena bunyi /h/ seharusnya tetap dituturkan.
-          Interferensi Morfologi
Interferensi morfologi terdapat pada kata ketiduran. Kata ketiduran terbentuk karena adanya afiksasi dari bahasa Jawa yaitu konfiks {ke-an} dengan kata turu menjadi keturuan atau keturon, maka terjadilah interferensi morfologi yang masuk ke dalam bahasa Indonesia sehingga menjadi ketiduran. Kata ketiduran merupakan penyimpangan morfologi, dalam bahasa Indonesia struktur kata tersebut haruslah berbentuk: tertidur.
-          Interferensi Sintaksis
Tuturan yang diujarkan siswa I, tidak terinterferensi sintaksis bahasa Jawa, hanya penggunaan bahasanya masih terinterferensi morfologi.
-Tadi malam Susi ketiduran karena sorenya habis kegiatan ekskul.
Sebagai koreksi dalam bahasa Indonesia struktur kalimat tersebut berbentuk:
malam tadi Susi tertidur karena sore harinya melaksanakan kegiatan ekstra kulikuler”.
2.      Rumahnya ayahnya Anton  yang besar sendiri di desa itu.
Analisis:
-          Interferensi Morfologi
Interferensi morfologi terdapat pada kata rumahnya dan ayahnya. Kata rumahnya  dan ayahnya terbentuk karena adanya enklitik –nya yang mengartikan sufiks –e dalam bahasa Jawa yaitu omahe dan bapakke. Di dalam bahasa Jawa memang ada sufiks –e, yang kemudian terjadi interferensi morfologi yang masuk ke dalam bahasa Indonesia sehingga menjadi rumahnya dan bapaknya. Kata tersebut merupakan penyimpangan morfologis.
-          Interferensi Sintaksis
Kalimat tersebut mengalami penyimpangan dalam penggunaan kata sendiri. Kata sendiri di sini menyerap kata dhewe dari bahasa jawa yang kemudian diartikan sendiri ke dalam bahasa Indonesia. Padahal sebanarnya kata dhewe dalam bahasa Jawa itu memaknai kata paling.
Jadi koreksi yang benar dalam kalimat tersebut adalah
Rumah ayah Anton yang paling besar di desa itu.
3.       Neonisasi
Analisis:
-          Interferensi morfologis
Bentuk kata tersebut merupakan penyimpangan dari sistematik morfologi bahasa Indonesia, di dalam bahasa Indonesia terdapat konfiks pe-an yang dapat menggantikan sufiks –isasi dalam bahasa Belanda/Inggris. Jadi kata seharusnya peneonan bukan neonisasi.
4.      Tendanisasi.
Analisis:
-          Interferensi morfologis
Bentuk kata tersebut merupakan penyimpangan dari sistematik morfologi bahasa Indonesia, di dalam bahasa Indonesia terdapat konfiks pe-an yang dapat menggantikan sufiks –isasi dalam bahasa Belanda/Inggris. Jadi kata yang benar seharusnya penendaan bukan tendanisasi.
5.      Ketabrak
Analisis:
-          Interferensi morfologis
Bentuk kata tersebut merupakan penyimpangan dari sistematik morfologi bahasa Indonesia, di dalam bahasa Indonesia terdapat prefiks ter- yang dapat menggantikan konfiks ke- dalam bahasa Jawa. Jadi kata yang benar seharusnya tertabrak bukan ketabrak.
6.      Kejebak
Analisis:
-          Interferensi morfologis
Bentuk kata tersebut merupakan penyimpangan dari sistematik morfologi bahasa Indonesia, di dalam bahasa Indonesia terdapat prefiks ter- yang dapat menggantikan konfiks ke- dalam bahasa Jawa. Jadi kata yang benar seharusnya terjebak bukan kejebak.
7.      Kekecilan
Analisis:
-          Interferensi morfologis
Bentuk kata tersebut merupakan penyimpangan dari sistematik morfologi bahasa Indonesia, di dalam bahasa Indonesia terdapat kata terlalu yang bisa menggantikan konfiks ke- dalam bahasa Jawa. Kata terlalu kecil dapat menggantikan kata kekecilan yang salah dalam pembentukannya.
8.      Kemahalan
Analisis:
-          Interferensi morfologis
Bentuk kata tersebut merupakan penyimpangan dari sistematik morfologi bahasa Indonesia, di dalam bahasa Indonesia terdapat kata terlalu yang bisa menggantikan konfiks ke- dalam bahasa Jawa. Kata terlalu mahal dapat menggantikan kata kekecilan yang salah dalam pembentukannya.
9.      Surat itu telah dibaca oleh saya.
Analisis :
-          Interferensi Sintaksis
Kalimat tersebut adalah bentuk terinterferensi oleh bahasa Sunda, sebab dalam bahasa Sundanya berbunyi: eta surat geus dibaca ku kuring. Dalam bahasa Indonesia struktur kalimatnya haruslah berbentuk Surat itu sudah saya baca.
10.  Aku meliat Rifa menyandar pada tiang di pinggir jalan.
Analisis:
-          Interferensi Fonologis
Dalam kalimat tersebut kata meliat telah terjadi pengurangan fonem  /h/. Biasanya orang Jawa yang menuturkan kata ini. Karena di dalam bahasa Jawa fonem /h/ sering kali tidak diucapkan.
11.  Smua orang sudah tidur.
Analisis:
-          Interferensi Fonologis
Kata smua dalam kalimat tersebut mengalami interferensi fonologis, yaitu adanya pengurangan fonem /e/ yang seharusnya menjadi semua.
12.  Aku tidak sengaja ngeliat dia di bus.
Analisis:
-          Interferensi fonologis
Kata dasar liat pada ngeliat harusnya terdapat fonem /h/ yang akan menjadi lihat.
-          Interferensi morfologis
Kata ngeliat yang berafiks nge- salah penggunaannya dalam bahasa Indonesia. Di dalam bahasa Indonesia afiks nge- dapat digantikan dengan afiks me-. Jadi kata yang benar adalah melihat.
13.  Sini tak buatin nasi goreng.
Analisis :
-          Interferensi morfologis
Bentuk kata buatin dalam kalimat tersebut mengalami interferensi morfologi. Hal ini ditunjukkan dengan adanya konfiks –in yang di dalam bahasa Indonesia sebenarnya tidak ada. Di dalam bahasa Indonesia terdapat konfiks –kan yang bisa menggantikan konfiks –in. jadi kata yang benar adalah buatkan.
-          Interferensi sintaksis
Dalam pola susunan kalimat tersebut masih menyalahi aturan kaidah bahasa Indonesia. Pola yang digunakan kalimat tersebut memakai pola bahasa Jawa yaitu, rene tak gawekke sego goreng. Yang dalam bahasa Indonesia seharusnya menjadi ke sini, saya buatkan nasi goreng.
14.  Kamu tetep cantik kog meskipun belum mandi.
Analisis:
-          Interferensi fonologis
Kata tetep dalam kalimat tersebut mengalami interferensi fonologis yaitu perubahan fonem /a/ menjadi /e/. Seharusnya dalam bahsa Indonesia yang benar adalah tetap.
-          Interferensi sintaksis
Pola kalimat tersebut menyerap dari bahasa Jawa yang ditandai dengan adanya kata kog yang ada di dalam bahsa Jawa. Kalimat yang benar seharusnya adalah Kamu tetap cantik meskipun belum mandi.


Komentar

  1. sama-sama. Terima kasih sudah berkunjung.

    BalasHapus
  2. Betway Casino Review
    Betway Casino Review 2021 - 토토 사이트 제작 A Complete Look at the 바카라 전략 Games, Bonus and Promotions The Betway Casino was launched in 2004. This w88 코리아 casino has over 800 games in its 룰렛 library Titanium Metal Supply

    BalasHapus
  3. What makes gambling legal in Michigan? - DRMCD
    Michigan 군산 출장마사지 casinos have legalized sports betting, and casinos have made it legal 통영 출장샵 in other states. 통영 출장샵 As of December 2021, 동두천 출장마사지 Michigan has 천안 출장안마 launched its online sportsbook

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Unsur Bawahan Langsung & Teori Tagmemik

ANALISIS LINGUISTIK STRUKTURAL