Analisis CERPEN Berdasarkan Problematika Estetika
Nama
: Inayah Wulansafittri
Prodi : Sastra Indonesia / rombel 1
Kali
Mati
Oleh
: Joni Ariadinata
Pada gerimis menjelang subuh;
mayat seorang perempuan terlempar dari dalam kereta.
Depan gardu, Kamin penjaga palang menyeretnya,
meletakkan di tepi. Wajah perempuan itu cantik.
Gelombang rambut memburai, remang di atas bahu
menggelincir licin dan terbuka. Putih. Bibir,
pahatan-garis hidung, mata. Utuh.
Kesuburan padang-padang mimpi di atas sabana
pada lekuk yang jauh. Kamin mematung. Jelita pucat
sepasang tangan terkulai, amat lembut. Betapa indah.
Lamat kehalusan neon mmenyingkapkan rekah basah
kesahduan gadis amat matang:
“Ia sudah mati…”
Kamin memanggil Husni. Inilah kisahnya:
Sisa
aroma malam yang pincang menghablurkan bau najis pada pucuk-pucuk lampu,
hinggap mengempis di batang-batang besi:
rel kereta, tembok jajaran tiang, atau gelonteng lamat penjaga malam dalam sisa
sumpah kantuk serapah. Embun menggigil turun ribuan malaikat bengis menjelmakan
kesedihan lewat kelungker-kelungker wajah
papa di lantai tembok, sedemikian terhina dalam keluntungan sarung dan koran, jajaran trotoar. Dentang jam stasiun
ketika angin mendenguskan napas bengkok. Kelebat sesekali mobil orang mujur menguapkan
mulut bacin, derum mesin membelah seraya tangan mengelus sisa nikmat dengkuran
mabuk. Selebih-lebihnya sunyi. Dan atap-atap kesepian jauh berjuntaian
membentuk pertil-pertil cahaya dalam lindungan keagungan Tuhan. Menggagas
musim. Daun lembab yang diterbangkan angin. Sepi. Aspal menghujam dalam basah
Januari berkelok, menepi, seperti peta-peta dalam sejarah kota di subuh hari.
Jam tembok berketiktak, keritik hujan jatuh: “O… tra-la-la. Tra-la-la. Tam… tam… tam…” tak ada bintang. Lagu
sumbang peluit lokomotif dan lonceng penyeberangan di luar kota berdentang;
sehingga kesendirian nasib pejaga palang kereta mendhaif-kan mimpi tidur barang sejentik. Lelah jauh perjalanan langit,
tertatih-tatih: “Hei, ssst, diamlah. Diamlah Husni, kau tak bisa bernyanyi
dalam keadaan seperti ini. Kita harus sopan. Mari, mari pegang tangannya.
Aaah!... naaaah begitu. Hei, dengar, suara apa itu?”
“Mobil.”
“Ya. Aku tahu.” Diam. Mencuping. Dingin diam.
“Kulihat, Kamin. Siapa tahu. Aku…”
“Maksudmu?”
“Anu,
perempuan ini utuh sekali.”
“Ya
ampun.”
“Dengar.
Kupikir…”
“Tak
usah. Begini saja,” memotong. “Kita baringkan begini saja sambil menunggu,” kemudian sedikit beringsut. Wajah di
sampingnya membeku bisu. Ada gurat dada berdegup. Nyalang matanya memandang
langit, tiba-tiba menggigis: “Kamin…”
“Ya.”
“Sungguh
kau…”
“Heh?”
“Mungkin
saja benar malaikat itu baik.”
“Heh.”
“Kudengar
dari guruku mengaji. Ia mengirim bidadari, sebagai landasan perbuatan baik…
maksudku, besok di akherat. Seperti… barangkali saja, iya kan?”
“Kudengar
juga begitu. Mungkin. Sudahlah, kita singkirkan saja mayat itu di belakang,”
Kamin mengambil keputusan. Menatap Husni ragu-ragu. “Menunggu pagi. Aku jadi
tak suka.”
“Aku
hanya penasaran. Pernahkah kau melihat perempuan secantik ini. Setidaknya
membayangkan, atau, barangkali bermimpi?”
“Orang
bodoh semacam kita. Tak mungkin,” ketawa melanjutkan. “Apalagi kau sudah tua.
He-he-heh, muda saja tak ada yang mau. Apalagi tua…” Husni nyengenges. Mengernyit Kamin dalam murung menelikung. Tiba-tiba.
Ditajamnya cuping telinga pada peluit kereta langsir, ─ bunyi guruhnya
terdengar. Jauh.
“Lihatlah,
kupikir kau tak akan gembira? Inilah yang kumaksudkan dengan cerita itu. hem,
bayangkan, setua ini. Apakah kau percaya pada takhayul Kamin?” Husni mengajukan
gagasan tak ragu. Sekali lagi. Cuping telinganya memerah. Menarik matanya
dengan teka-teki, kemudian gelisah bergerak:
“Husni!”
sadar Kamin menjumbul, menahan, “Kalau begini tidak usah saja!”
“Tidak.
Aku hanya ingin menikmatinya, maksudku, ehm, melihat. Tidak apa-apa. Ah, ini
tidak biasa, Kamin.”
“Ya
sudah.”
“Tra-la-la… tam-tam-tam… tra… la… la…”
Lagu sumbang Husni menyentuh. Besi-besi mengejam kelam panjang dan hitam. Ada
angin seor; kelebat-mengelabat lampu gardu. Lama keduanya berbisu. Pada langit,
pada tembok, pada aspal, Husni menyenandung gerimit penasaran: Tam-tam-tam… tam-tam-tam. Semakin
berani. Tapi Kamin menggerutu jam, melirik Husni, mendongak, kaku: “Sebetulnya
aku takut. Tidak sopan Husni.”
“Kenapa?”
“Tidak
boleh begitu.”
“Tak
ada orang.”
“Apa
maksudmu dengan tak ada orang?”
“Maksudku…
anu, kita tak dapat meninggalkan tugas untuk melaporkannya,”Husni nyengir.
“Jika kau yang pergi, aku tak mau sendiri. Apa aku yang pergi?” setengah tak
yakin menawarkan gagasan. Menatap seperti sungguh”
“Jangan.”
“Ahhh,
maksudmu, menunggu mobil saja?” Husni berwajah lega. “Kupikir mending begitu, sambil, siapa tahu.
Kamin, ssst…”
“Barangkali.
Tapi siapa mau peduli.”
“Sayang…”
ia menarik napas panjang.
“Kenapa?”
“Tak
apa.”
“Perempuan
itu sudah mati, Husni!” mengeras. Ada gelepar keasingan. Ia paham, teramat
paham keingingan Husni. Kamin melarikan pandang pada pertil-pertil cahaya kota.
Menepiskan bayangan mata mengelus.
“Berdosa.
Kita tak boleh sembarangan, meski ia sudah mati.”
“Huh!
Sejak kapan kau mulai bernilai begitu? Sepertinya aku tak tahu saja. Heh-he-heh, duuuh Warjinaaah… badanmu bau
tapi aku tak tahuuuu…” Husni menyindir.
“Jangan
sebut nama itu lagi,” diam. Ya. Tak ada nasib harus dipikir, begitu setidaknya
banyak menghibur, ketika ia, memang bertambah tua. Tubuh bongkok dengan
kekerdilan yang naïf. Tapi nyata laki-laki begini gelisah. Dan Warjinah?
Sungguh sinting, “Husni…”
“Kau
saja tetap tak pernah beristri. Dengar,” berbisik. “Kita banyak menolong orang,
tapi orang mana bisa menolong kita. Aku bosan,” Husni bicara. “Kamin…”
“Heh.”
“Apa
keinginanmu sudah mati?”
“Tidak
tahu.”
“Oalah nyaaak!”
Kamin
beku. Satu hal yang tak patut, adalah mengingatkannya pada masa lampau. Pada
perempuan. Pada kematian. Betul Kamin tersinggung. Betapa, dengan sisa ketuaan
memburu bayangan yang tak masuk akal. Barangkali dalam otaknya terpejal
kenangan kembali nama Surti, Aminah: dan keduanya gagal. Perawan suntingan yang
hendak dijadikannya istri. Sungguh benar tak patut. Kamin merana, seperti
sering ia menamakannya kapok pada nasib. Pada wajahnya yang buruk. Pada gaji
tak cukup. Atau barangkali karena pelarian ingatan dari cerita sesosok tubuh
kurus di balik gerbong jika malam tertatih-tatih. Seorang gelandangan. Hanya
Tuhan yang tahu kian sengsaranya menahan keinginan untuk mencoba kehangatan
perempuan. Warjinah, pelacur itu, dalam otak lelaki paling waras tak mungkin
orang sudi menjamahnya. Karena bau, mungkin, apa saja. Kotor, buruk hingga najis.
Tapi Kamin memang hina.
“Maaf.
Maksudku, tentang kebaikan itu,” Husni meralat. “Kita akan masuk sorga,
Hoh-hoh-hoh! Bayangkan, ribuan orang yang kita bantu menyeberangi rel ini
dengan aman. Dalam kehangatan, di balik mobil, sementara hujan atau angin tak
peduli. Dan kita tetap di sini. Sampai mati. Dan, berapa kali kita menolong
orang, mengumpulkan daging-daging yang berserakan tergilas rel. Tak ada seorang
pun yang mau kecuali kita bukan? Empat kali, kupikir lima. O ya, lima. Dan
kini…”
“Betul,
lima. Semuanya bunuh diri. Yang satu mahasiswa. Aku pegang potongan kepalanya
di bawah sana,” menunjuk. Kamin tersenyum. Berdiri membenahkan wajah kusut. Ada
bayang kebanggaan sejentik. Tapi sejentik pula gamang. Husni menjawil, Kamin
meradang-pandang ragu sejenak pada cuping hidung, bibir, mata, dan rambut yang
tergerai di sudut gelap. Betapa indah. Betapa seumur-umur tak pernah sekalipun
jelas tergambar, kecuali dalam sejentil mimpi, atau bahkan tidak sama sekali?
Kesempurnaan, dari bentuk oval wajah hingga turun cuatan bahu. Dada itu. Basah
kain menempel mengeratkan bentuk nyaris mustahil dapat ia nikmati
sejelas-jelasnya. Tapi tidak:
Kamin
meremas tangan sendiri. Dingin menelusuk. Kilatan malam merayap dan cahaya
berpendar-pendar jauh pada kotak wuwungan
menghampar di bawah kota. Ada kemereot
dahan-dahan waru sepanjang aspal menghujam. Melirik Husni yang terpaku dan
Kamin menampik: sejenis usaha penolakan sadar bahwa ia berhadapan dengan
sesuatu yang mustahil. Betapa pun ajaibnya karena justru, pada umur menjelang
kematian itulah semestinya ia bisa lebih berpikir. Barangkali Tuhan telah
menggagas kodratnya sedemikian rupa dan tak mungkin ditolak: bahwa Kamin, hanya
akan berbahagia setelah mati. Seperti omongan Husni tentang bidadari, jelas itu
hiburan yang baik. Jelas pula bukan Warjinah dengan tubuh peyot penuh tulang
tapi Kamin terpaksa melakukannya. Dulu. Lama sekali, “Husni!” Kamin terjengah
dan membetot.
“Sudah
kubilang hanya penasaran,” menyeletuk
pelan. Ada perubahan. Tajam. “Itu saja. Bertahun-tahun, sampai usiaku lima
puluh, “ Husni memandang. Sorot mata yang aneh. Tiba-tiba jadi angkuh, “Apa
tidak boleh, Kamin? Aku tahu, engkau pun penasaran. Potong leherku. Kau pandai
berahasia. Iya kan?” Katanya yakin. Kamin memerjal:
“Kau
punya anak dan istri. Kualat, Husni. Kau mau… begituan? Mayat… Ya Tuhan. Kalau
begitu, aku pergi saja melaporkannya.” Kamin bertahan dan baginya memang
pantas.
“Hei,
tunggu… Kita belum selesai ngomong, Kamin!”
“Rohnya
tidak akan terima. Kaulihat, perempuan itu akan bangkit kalau kaujamah, hiiiiy”
Kamin berjingkat. Sengaja ia membuat takut, meskipun paham keberanian Husni,
begitulah, “Setengah jam lagi kereta lewat.”
“Kamin!”
Kelebat
lampu mobil menderum. Kamin turun dan bergegas melambai: “Sial!” melaju. Kamin
terlambat lantas mematung karena mungkin bisa saja memang tak mau peduli.
“Pergilah!”
tiba-tiba suara Husni mengagetkan. Tak dinyana. Betulkah telah kurangajarnya
Husni? Padahal ia barusan bilang malas ditinggal sendiri; toh tanpanya memang
setiap malam tak mungkin. Kekerabatan yang bagus. Sakit atau suka, terkecuali
memang hal-hal yang tak mungkin dihindari betul. Aneh, Kamin gagap dan ragu.
Ada rahasia menyembul lagi di balik otak sederhananya yang sebenar-benarnya
tersimpan. Jangan-jangan Husni menangkap juga perilaku itu. sejak tadi.
Tepatnya ia memang gelisah. Barangkali semacam ingatan Kamin muda dulu yang
berjingkat, menyeruak, pada pemandian seorang mayat tetangganya yang mati:
seorang janda. Tak ada jalan selain itu, karena Kamin laki-laki tulen. Tubuh
mayat janda yang memang putih. Ada panas merayapkan keasingan. Terlebih hal
yang paling tepat karena gadis-gadis selalu mengutuk: “Sudah rupa peot, apa
yang diharapkan dari gaji seorang penjaga palang kereta?” itu contoh penolakan
Surti. Sedang Aminah lain ceritanya. Putik-putik cinta yang berkembang di
antara guguran daun tebu. Seorang pekerja gali buruh. Betapa indah pertemuan
menjelang sore, dengan sepeda menjemput dan menebarkan bentangan harapan masa
depan. Tapi lantas orang tua itu mengusir: “Kutolak! Aminah akan kawin tapi
tidak dengan kamu!”
Bah!
Seret nasibnya ditindih beban. Kamin menangis. Dan sergapan kuat kembali
menggelepar dua jam lalu. Bukan aroma kembang kuburan mayat janda di pemandian,
tapi betul-betul sebuah parfum, tubuh kenyal menempel di siku karena harus
mengangkat dari pinggir rel. dan pandangan mata Kamin tertuju langsung pada
cuatan hidung, dada, bibir itu. Pucat, tubuhnya putih. Ya ampun. Sedingin
apapun rok kembang merah jambu menyingkap setengah lebih tinggi di atas lutut,
tak sadar, dan gemeragap kilatan sesuatu untuk berbuat. Sedetik. Memang mati.
Perempuan begini muda. Tapi apa? Andaikan ia sendirian saja seperti pernah
ketika dua kali Husni terserang demam amat hebat, barangkali ia tak sanggup
memilih. Atau, barangkali juga tidak. Butuh kenekatan, sungguh biadab, tapi
panas menjalarkan kegoyahan. Membadai menggelombang. Duh. Maka lantas Kamin
memanggil Husni. Bayang-bayang yang ditepis. Hanya seperseketika. Husni? Tak
patut: karena harga diri, kebongkokan punggung, malu, tak pantas di mata Husni sehingga
berteriak: “Ke sinilah Husni! Husni!”
Ilalang-ilalang
bergesekan pada malam yang naïf. Merayap waktu sebentar lagi subuh lantas
terang jam dilalap siang. Kamin berbalik. Husni menggeramang takjub lantas
berdecak: “Benar-benar tak pernah kuimpikan ini. Bahkan tidak istriku yang
bertahun-tahun. Tidak juga Jamilah, Maryati, Kusmini. Aku bosan kenapa hanya
orang beruntung yang selalu merasakan keindahan begini. ohh…” dan tangan gelap
itu gemetar mencoba mengusik singkapan rahasia lebih jauh. Dalam lompatan mimpi
padat. Kehalusan surga di lambang nafsu tak terperi. Dalam kebiadaban harapan
menggusur akal waras. Perempuan kaku. Terbujur diam. Tak mengutuk atau menolak,
terpejam dalam kesunyian abadi. Mati. Dan hujan menyeor lagi-lagi tumpah,
seperhentak kesadaran angin menyodok goyangan gantungan cahaya neon.
“Husni!”
Kamin mencengkram kalap. Tengkuk kemeja. Tak rela. Sungguh semacam tarikan
kasar menghujam matanya tak percaya. Ya Tuhan. Ada gemeragal tapi Husni tak
peduli. Betul-betul tak peduli. Hanya menoleh Kamin sedikit dan buru-buru
menyingkap, seperti mengejek. Lentingan kuat penipuan otak kecil menajamkan
kaku tungkai dua kaki Kamin melemah. Kalah. Lemas berbanding pertempuran akal
budi dan kenistaan yang wajar pada diri seorang laki-laki. Dengan keinginan
terpenggal, bertahun-tahun.
“Lihat,
Kamin…” geluntungan khayalan menyergap dalam remang kilat cahaya berpendar.
Melenting bagai sepuhan perak di atas jenjang leher memanjang. Meneluwung,
liukan tajam halus, ke bawah, hamparan sorga dari kancing yang tersingkap.
Melulur melulu kenekatan bawah sadar atas rapuhnya penolakan.
“Ia
juga sama seperti kebanyakan yang lain. Bedanya ia mati. Tapi kalau tidak,
apakah orang seperti kita bisa memperlakukannya semacam ini. Bahkan mengenal
pun barangkali tidak akan sudi. Perempuan ini pasti kaya. Mungkin istri seorang
gubernur, pemborong, dokter. Dandanannya bagus. Wangi. Berkhayal pun pasti tidak
boleh apalagi cantik begini. Sungguh sekali. Seperti bintang film. Ohh,
malaikatlah yang mengirim bidadari. Tak apa. Kapan lagi, Kamin. Seumur-umur... ─ untunglah mati. Ya Tuhan, kita seenak udel bisa
mempermainkan dia, hoh-hoh-hoh, Kamin! Karena mati. Eh, eh, tak mungkin bisa
menghina. Biar rohnya terhina, malah! Heh-heh-heh. Perempuan begini. kapan
lagi… ck-ck-ck. Betul-betul seperti gambar.” Lampus. Ada dendam membadai. Gila.
“Kita permak, Kamin! Kita harus berani. Jenis-jenis mereka inilah yang selalu
melecehkan kita. Sesungguhnya kita orang baik, bukan? Oh-oh-oooh…”
Dan sinting. Tapi masuk akal. Ya, begitulah ia pun nyaris
berpikir, lama sekali seperti dulu. Tak mungkin jika tidak karena sebuah
keajaiban. Raut-raut keindahan yang berlompatan dalam mimpi; lewat padang
mekarnya cinta. Kerinduan. Betapa bahagia ketika seorang diri menawarkan
pengingkaran atas kenyataan, seorang penjaga palang, tak punya sejentil pun
kebanggaan. Memandang pasangan-pasangan jelita dengan kulit yang bersih, dengan
senyum harum mawar dan melirik pada bawaan-bawaan sarat kebagusan. Betis-betis
terbuka. muka berminyak, derum mobil, gemersik licin kain, dan mudahnya
melempar keinginan lewat uluran lembar uang yang hangat. Tersenyum Kamin
menempatkan diri di antaranya, lantas ketika sadar mengutuk hidupnya:
“Perempuan!” Menggigil. Husni, baginya lebih baik. Beristri dan beranak.
Itulah, sedang ia sama berdiri, duduk, tidur dan terjaga di sini. Di gardu ini.
Sampai mati. Kenapa tidak seperti Husni saja? Setidaknya, meski tak sebagus
bayangan nasib yang melompat di jalan-jalan kota setiap pagi dan sore, tapi ada
perempuan yang menangisinya ketika sakit, menemaninya ketika suka. Dingin
menelusuk pada hamparan malam-malam selalu. Duh.
“Babi!” Dan ini memang betul-betul nyata. Tapi kenapa justru
lagi-lagi mayat? Kiamat. Mata Kamin memerah, “Ingat istrimu, Husni. Jangan
rakus. Kau… kau sudah punya anak.”─ Sedang aku tidak ─, Kamin menggerimit dalam hati menangis.
“Kau menyebutku babi, heh?” Husni menggerunjal. “Ini
satu-satunya kesempatan, tolol! Otakmulah yang babi!”
“Heh…”
“Ya Gusti. Sial. Kubilang sama! Sst, sini… kautahu Warjinah
itu sebetulnya lebih busuk dari mayat?”
“Heh!”
“Masih hangat. Rabalah, atau, kalau kau memang tidak suka
biar aku yang menyeretnya ke belakang. Jangan macam-macam aku bisa pula
memukulmu, Kamin!” katanya bersabar. Begitu kasar dan Kamin terhenyak.
Nyalang. Lama sekali. Lantunan bledek menyambar gigilan dada Kamin bergetar, entah: tiba-tiba
marah. Kelebat neraka jahat menari-nari, menjepit paru-paru, menguntalkan
pandangan iblislah yang kini tengah mengakak: “Kita sama. Gaji sama. Iya kan?
He-he-heh. Kamu jelek. Rupaku juga. Tapi aku laku, dan kamu, peyotlah sampai
tua. Tak ada yang mengiringimu dalam kematian. Mampuslah, sendiri, dimakan
cacing. Tra-la-la…” Mengutuk. Betapa
Husni orang yang paling busuk, sebusuk-busuknya. Tak adil. Barangkali Tuhan lupa
bahwa ia juga sama kedudukannya dengan Husni. Dan Tuhan… masih juga mengirimkan
keberanian pada diri Husni. Menyesal. Ini kelewatan sungguh. Mengutuk,
mengutuk, mengutuk.
Ringkik-ringkik waru di jalan aspal gelosoran hujan
bunyinya giris. Husni menyeret ada napas
kuda binal. Banal. Ada lamat kereta
jauh. Dersing kawat telepon. Menciut angin dan di bawah sana pertil-pertil
cahaya kota memuji keagungan subuh. Dengkur orang nikmat karena dingin
melingkarkan tangan pada ketiak perempuan-perempuannya. Seganas apa pun
kenikmatan, sebuas apa pun kehendak: baiklah! Ya. Setibanya angan-angan entah
bagaimana Kamin berpikir ia juga berhak atas segala yang namanya berhak. Tak
sadar melompat, menerjang, membentur, membeliung dan meradang hingga sebuah
batu yang terkepal dari rangkaian ketidakadilan kodrat atas nasibnya bicara,
“Husni!!” Dan nasib Husni membuahkan keputusan sarat beban: Kamin menggempurkan
sebongkah batu.
“Arkh!!”
“Engkau setan, dari dulu aku iri akan nasibmu!”
“Kamin!”
“Enyahlah ke neraka, babi! Terlalu lama… terlalu lama engkau
menyiksa. Rasakan! Rasakan! Rasakkkkan!!”
“Arkh…”
Kepala Husni meniarap di atas tubuh putih, nyaris telanjang. Mengeluh. Dan
mayat itu sendiri abadi. Dua benda, sepasang pengantin sunyi.
Hening.
Lamat dengus kereta fajar sampai. Tertatih Kamin menutup palang. Letih.
Menggeliat kota pada keritik jam untuk tersenyum. Kini saatnya tiba dan ia
bernyanyi, tra-la-laaa… Huuu-hu-huuu… Lantas
memandang semburat langit, tidak sebegitu gelap, dan derak-derak roda baja
mencatatkan kembali ribuan kebaikan yang entah barangkali tak pernah terpikir
oleh wajah-wajah yang berkelebat di balik jendela. Kamin berbalik, berbisik dan
menisik: “Kasihku, sayangku, kasihku…”
Hingga siang
orang-orang
menemukannya
terkapar di sisi Husni.
Mengendus-endus.
Kesedihan mengelam
panjang rintihan
mabuk tersengal. Merangkul mimpi,
seorang
bidadari.
Hingga
malaikat-malaikat berjejer
memadati rel,
turun berbondong dari kota,
dari rumah, dari
kantor-kantor, dari mobil.
Wajah-wajah
memekik dan mengutuk, lantas
melemparinya
dengan batu: “Najis!!”
Yogyakarta, 1996
Analisis berdasarkan Problematika
Estetika :
1.
Objek
Objek yang dianalisis dalam
estetika pada umumnya adalah sebuah karya seni. Karya sastra juga merupakan
bagian dari sebuah seni dengan menggunakan bahasa sebagai medianya. Cerpen
adalah salah satu karya sastra yang dapat dianalisis mengenai unsur
estetikanya. Cerpen yang berujudul Kali Mati karya Joni Ariadinata ini patut
untuk dianalisis mengenai unsur estetikanya.
2.
Respon Estetis
1.
Respon seniman
terhadap alam sekitarnya
Pengarang menunjukkan gambaran dari
kehidupan dua orang penjaga palang kereta api yang berbeda. Mereka mungkin
bernasib sama dalam hal gaji, pekerjaan, bahkan rupa. Namun keduanya memilik
perbedaan. Perbedaan pendapat mengenai tindakan yang dilakukan terhadap mayat
perempuan yang ditemukannya. Pengarang menunjukkan perdebatan keduanya yang
pada akhirnya tidak bisa disamakan. Mungkin si pengarang juga pernah melihat
bagaimana kehidupan di sekitar palang kereta api. Banyak terjadi kecelakaan
yang menewaskan orang, bahkan sampai ditemukan mayat.
2.
Respon
masyarakat terhadap karya seni yang dihasilkan oleh seniman
Masyarakat
mungkin akan beranggapan bahwa tidak semua yang hina akan terus menjadi hina,
begitu pula yang baik tidak akan baik selamanya. Seperti halnya Kamin yang dulu
sempat menjadi hina ketika melakukan hubungan dengan Warjinah seorang PSK,
tetapi Kamin kini sadar ia tidak pantas melakukan perbutan hina kepada seorang
wanita manapun, sekalipun itu adalah mayat. Meski ia sadar tak ada yang mau
bersamanya. Lain halnya dengan Husni yang sudah berkeluarga, memiliki istri
yang setia dan anak. Ia tetap saja melakukan tindakan hina kepada mayat wanita.
3.
Respon
masyarakat secara keseluruhan terhadap lingkungan
Masyarakat
beranggapan lingkungan yang digambarkan lewat cerpen Kali Mati adalah
lingkungan orang-orang yang memiliki nasib kurang baik. Tindakan kriminal mudah
dijumpai dengan ditemukannya mayat. Banyak orang terlindas di rel kereta. Tidak
ada jaminan keamanan di sana. Masyarakat bisa saja merasa resah terhadap
gambaran dari cerpen apabila lingkungan yang mereka tinggali sama dengan
keadaan di cerpen.
3.
Kualitas estetis
1.
Subjektif-objektif
·
Subjektif
Secara
keseluruhan kalimat yang digunakan dalam cerpen di atas menggunakan kalimat sehari-hari
sehingga mudah di cerna oleh pembaca. Dalam kalimat “Kau punya anak dan istri.
Kualat, Husni. Kau mau… begituan? Mayat…” kalimat yang digunakan adalah
istilah-istilah yang sering di dengar dalam kehidupan sehari-hari. Tidak
terlalu baku ataupun kaku untuk di baca. Pembaca menyukai kalimat yang mudah
dipahami, sehingga dalam membaca cerpen itu, pembaca bisa menikmatinya.
·
Objektif
Banyak
kata puitis di dalam cerpen sehingga memperindah cerpen sebagai salah satu
karya sastra.
2.
Intrinsik-ekstrinsik
·
Intrinsik
a)
Tema
Sosial.
Keseluruhan cerita mengangkat tentang moral kemanusiaan.
b)
Penokohan
·
Kamin :
Dewasa, Tanggung jawab, Realistis, Rendah diri
·
Husni :
Keras kepala, Kurang ajar, Tidak peduli
·
Surti :
Matre, Sombong
·
Aminah :
Patuh, Polos
·
Ibu Aminah :
Galak, matre
c)
Setting
·
Tempat
Tepi rel
kereta api
·
Waktu
Menjelang
subuh hingga siang.
·
Suasana
Ø Tegang. Ketika Kamin melihat mayat
perempuan, ia lantas menyeretnya ketepi. Meski mati, namun mayat itu mampu
membuat Kamin sempat tergoda.
Ø Marah, sedih, kecewa. Kamin marah
terhadap perbuatan Husni. Ia juga sedih dan kecewa teman kerjanya itu tega
melakukan hal hina pada mayat.
d)
Alur
Alur yang digunakan oleh pengarang dalam
cerita pendek berjudul Kali Mati adalah maju mundur (campuran)
e)
Sudut pandang
Sudut pandang yang digunakan oleh
pengarang dalam cerita pendek berjudul Kali Mati adalah orang ketiga sebagai
pelaku utama.
f)
Gaya bahasa
Gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang
dalam cerita pendek berjudul Kali Mati adalah bahasa sehari-hari sehingga mudah
dipahami.
g)
Amanat
·
Matipun manusia memiliki hak untuk diperlakukan
dengan baik.
·
Berpikir sebelum bertindak, karena bisa saja
tindakan yang diambil tanpa ada pikir panjang akan menyakiti pihak lainnya.
·
Orang hina belum tentu perbuatannya hina,
begitu pula sebaliknya.
·
Ekstrinsik
§ Nilai
dalam karya seni :
o
Sosial :
Tidak mencerminkan hubungan sosial yang baik, banyak terjadi tindakan kriminal
dengan bukti ditemukannya mayat. Perdebatan antara Kamin dan Husni tidak bisa
disatukan, mereka bertentangan.
o
Edukasi :
Kamin, meskipun ia merasa sama dengan Husni. Merasa hina dan rendah, tetapi ia
mampu mengontrol dirinya untuk tidak melakukan tindakan hina. Ia juga bisa
berpikir dewasa dan rasional. Tidak seperti Husni, ia memiliki keluarga utuh.
Namun tindakannya tidak pantas ditiru.
o
Moral :
Moral yang buruk ditunjukkan dengan tindakan Husni, ia melakukan hubungan
terhadap mayat.
§ Latar
belakang pengarang :
ü Watak
/ karakter
Pengarang
dilihat dari karyanya memiliki watak yang keras, apalagi terhadap kehidupan
yang mulai rusak moralnya,.
ü Ideology
Pengarang
memiliki paham kebenaran. Ia memilah pertentangan di kehidupan sosial.
ü Pengalaman
Pengalaman
si pengarang mungkin sudah cukup banyak, ia tahu mengenai kehidupan orang
seperti Kamin dan Husni. Ia tahu dan ia mampu membuat cerita berdasarkan
kehidupan yang seperti itu.
ü Lingkungan
kehidupan
Kali Mati adalah cerpen angkatan 90an
yang banyak mengusung tema sosial. Cerpen ini mempertajam masalah mengenai
moral kemanusiaan yang sudah hilang, namun di sisi lain ada yang masih
menjunjung nilai moral itu sendiri. Terjadi perdebatan mengenai tindakan
asusila terhadap mayat perempuan antara dua penjaga palang kereta api.
§ Keterkaitan
karya seni dengan masa diciptakan karya tersebut
Cerpen ini diciptakan pada tahun 96, juga
termasuk angkatan 90 di mana pada masa itu penuh kebebasan ekspresi dan
pemikiran bagi penulis.
3.
Positif-negatif
·
Positif
Cerpen
ini bernilai positif dilihat dari sudut pandang pemikiran Kamin. Kamin
menunjukkan tindakan yang benar dan tidak menyimpang.
·
Negatif
Bernilai
negatif dilihat dari sudut pandang Husni yang pada akhirnya melakukan tindakan
asusila terhadap mayat perempuan.
4.
Nilai
1.
Nilai objektif
Cerpen
ini banyak mengandung unsur sarkasme, kata-kata puitis, vulgar tetapi tidak sepenuhnya.
2.
Nilai subjektif
Pembaca
merasa cerpen ini bagus karena bahasa yang cenderung digunakan kebanyakan
adalah bahasa sehari-hari. Alur cerita yang tidak membuat pembaca bingung
karena sudah jelas.
5.
Pengalaman
1.
Pengalaman
langsung
Penikmat
pernah membuat cerpen ataupun puisi. Pernah mengikuti beberapa lomba cerpen
maupun puisi lewat online meskipun belum sempat menang.
2.
Pengalaman tidak
langsung
Penikmat
pernah belajar memahami sastra, pernah menganalisis sastra, dan membaca sastra.
6.
Jarak
Yang
ditampilkan dalam cerita menyeret permasalahan sehari-hari. Tindakan asusila,
kini banyak dijumpai di kehidupan nyata. Meski begitu tetap saja sebagai
pembaca, tidak pernah melihat secara langsung tindakan yang seperti itu.
apalagi terhadap mayat. Sulit dipercaya seseorang berani melakukan tindakan
yang seperti itu.
Komentar
Posting Komentar