DASAR-DASAR ANALISIS KALIMAT
DASAR-DASAR ANALISIS KALIMAT
Lembar
Komunikasi Bahasa Indonesia
SMA Stella
Duce 2 Yogakarta
disusun
oleh Agustinus Suyoto, S.Pd
I.
PENGERTIAN
Secara tradisional kalimat didefinisikan sebagai
urutan kata-kata yang mengandung maksud yang lengkap. Setelah timbul pendekatan struktural pada akhir
abad XIX orang sadar bahwa kalimat harus ditinjau pula dari segi strukturnya
jika ingin mendapat gambaran yang tepat. Berikut ini beberapa definisi tentang
kalimat.
- Menurut
Fokker kalimat ialah tuturan atau
ujaran yang mengandung arti, yang oleh lagunya ditandai sebagai kesatuan
yang selesai. Intonasi final itulah yang menentukan bahwa kita
berhadapan dengan kalimat atau bukan.
- Menurut
Gorys Keraf, kalimat adalah bagian ujaran yang didahului dan diikuti oleh
kesenapan, sedangkan intonasinya menunjukkan bahwa bagian ujaran itu sudah
lengkap.
II.
KESATUAN SINTAKSIS
Kata-kata di dalam kalimat ada yang menyendiri,
ada yang berkelompok dengan kata lain. Masing-masing kelompok tersebut disebut kesatuan sintaksis. Jadi
hubungan antara kata yang satu dengan kata yang lain tidaklah sama eratanya.
Kesatuan sintaksis itu ditentukan oleh permutasi
atau pemindahan. Kata atau kelompok kata yang dapat dipindahkan tempatnya
atanpa mengubah arti merupakan suatu kesatuan sintaksis. Kata atau kelompok
kata tersebut disebut gatra. Jadi, gatra ialah kesatuan sintaksis di dalam
kalimat yang dapat diubah-ubah letaknya tanpa mengubah arti kalimat tersebut. Gatra-gatra tersebut disebut fungsi atau
jabatannya. Fungsi-fungsi tersebut adalah subyek (S), predikat (P), dan
keterangan (K). Gatra subyek dan gatra predikat dianggap sebagai gatra yang
mutlak harus ada jika suatu ujaran mau disebut kalimat. Tetapi apabila sudah
diketahui oleh kedua belah pihak yang berbicara, salah satu atau keduanya dapat
juga tidak disebutkan.
Analisis Unsur Bawahan Langsung (UBL)
Untuk menentukan gatra-gatra dalam sebuah
kalimat dapat dilakukan dengan teknik analisis unsur bawahan langsung (UBL).
Prosedurnya sangat sederhana, yaitu dengan menganalisis unsur-unsur pembentuknya,
yaitu unsur segmental (tidak bisa dianalisis lagi) dan unsur suprasegmental
(masih bisa dianalisis lagi) seperti di bawah ini.
Kalimat yang akan dianalisis:
Ia sudah mengerjakan soal itu dengan
sunggu-sungguh.
UBL I, kalimat tersebut dianalisis sebagai berikut
a. Ia
b. Sudah mengerjakan soal itu dengan
sungguh-sungguh.
yang masih bisa dianalisis berikutnya adalah sudah mengerjakan soal itu dengan
sungguh-sungguh.
UBL II, hasilnya adalah
a. Sudah mengerjakan soal itu
b. Dengan sungguh-sungguh
yang masih bisa dianalisis berikutnya ada dua, yaitu (a) sudah mengerjakan soal itu,
dan (b) dengan sungguh-sungguh
UBL IIIa hasilnya adalah
a. sudah
b. mengerjakan soal itu
UBL IIIb hasilnya adalah
a. dengan
b. sungguh-sungguh
yang masih bisa dianalisis berikutnya adalah mengerjakan soal itu.
UBL IV hasilnya adalah
a. mengerjakan
b. soal itu
yang masih bisa dianalisis berikutnya adalah soal itu
UBL V hasilnya adalah
a. soal
b. itu
Jadi, hasil analisisnya sebagai berikut
Ia sudah mengerjakan soal itu dengan
sungguh-sungguh.
Ia/ sudah mengerjakan soal itu / dengan
sungguh-sungguh
Ia/ sudah/ mengerjakan soal itu/ dengan/
sungguh-sungguh
Ia/ sudah/ mengerjakan / soal / itu / dengan /
sungguh-sungguh
(Sampai tingkat tertentu, analisis UBL dapat digunakan sebagai dasar
penentuan gatra. Dalam contoh di atas, penggalan gatra sebagai berikut
Ia/sudah/mengerjakan/soal itu/dengan sungguh-sungguh)
Subyek dan Predikat
Subyek didefinisikan sebagai d asar tuturan
sedangkan predikat adalah apa yang dikatakan pembicara tentang subyek. Karena
predikat menyatakan sesuatu tentang subyek, pastilah daerah lingkungannya lebih
luas daripada subyek.
Keterangan
Keterangan dibedakan atas katerangan kalimat dan
keterangan kata. Keterangan kalimat menerangkan seluruh kalimat dan merupakan
gatra. Keterangan kalimat dapat dipindah-pindahkan, bebas. Keterangan kata
tempatnya tidak bebas, terikat kepada kata atau kelomok kata yang diterangkan.
Keterangan kata tidak merupakan gatra tersendiri.
Contoh :
Orang kaya itu pergi ke Jakarta
” ke Jakarta” pada kalimat di atas meruakan gatra keterangan
kalimat, sedangkan
” kaya” pada ”orang kaya”
hanya merupakan keterangan kata.
Klausa
Seperti telah dikatakan di atas, subek dan
predikat menurut pendekaan tradisional merupakan gatra yang wajib dan mutlak.
Konstruksi subyek-predikat (S-P) itu disebut klausa. Klausa berbeda dengana
kalimat. Klausa hanyalah konstruksi S-P tanpa memperhatikan intonasi final,
sedangkan kalimat mungkin hanya sebuah kata, kelompok kata, atau sebuah klausa
yang mempunyai intonasi final. Sebuah klausa yang mendapat intonasi final
merupakan sebuah kalimat, tetapi apabila intonasinya tidak final klausa hanya
merupakan gatra atau bahkan keterangan pada sebuah gatra
Keterangan Kalimat
Di atas telah dikatakana bahwa keterangan kalimat
menerangkan seluruh kalaimat. Hanya saja karena predikat merupakan gatra
terpenting di dalam sebuah kalimat, keterangan kalimat pada praktiknya juga
dapat dikatakan menerangkan predikat saja. Macam-macam keterangan kalimat
- Keterangan
waktu (temporal)
Yang dimaksud keterangan waktu adalah keterangan
yang menyatakan waktu terjadinya peristiwa predikat
Contoh : Ia pulang kemarin
- Keterangan
tempat (lokatif)
Yanag dimaksud keterangan tempat adalah keterangan
yang menyatakan tempat terjadinya peristiwa predikat.
Contoh : Ia pergi ke Surabaya.
- Keterangan
sebab (kausatif)
Yang dimaksud keterangan sebab adalah keterangan
yang menyatakan sebab-sebab terjadinya peristiwa predikat.
Contoh : Ia dibenci orang karena kejahatannya.
- Keterangan
akibat (konsekutif)
Yang dimaksud keterangan akibat adalah keterangan
yang menyatakan akibat peristiwa predikat.
Contoh
: Ia berjalan jauh hingga lelah.
- Keterangan
tujuan (final)
Yang dimaksud keterangan tujuan adalah keterangan
yang menyatakan tujuan peristiwa predikat.
Contoh : Ia pergi untuk membeli buku.
- Keterangan
modalitas/kesungguhan
Yang dimaksud keterangan modalitas/kesungguhan
adalah keterangan yang menyatakan sikap pembicara terhadap isi kalimat yang
diucapkannya.
Contoh : Ia barangkali
sakit.
Ia pasti datang.
- Keterangan
kualitas
Yang dimaksud keterangan kualitatif adalah
keterangan yang menyatakan kualitas peristiwa predikat.
Contoh : Ia
berjalan lambat-lambat.
- Keterangan
kuantitas
Yang dimaksud keterangan kuantitas adalah
keterangan yang menyatakan jumlah peristiwa predikat.
Contoh : Ia memukul dua kali.
- Keterangan
perlawanan/peralahan/konsesif
Yang dimaksud keterangan
perlawanan/peralahan/konsesif adalah keterangan yang menyatakan sesuatu yang
berlawanan dengan isi predikat.
Contoh : Ia ikut mendaki gunung meskipun sakit.
- Keterangan
kesertaan (komitatif)
Yang dimaksud keterangan komitatif adalah
keterangan yang menyatakan orang yang ikut melangsungkan peristiwa predikat.
Contoh : Ia pergi ke Jakarta dengan Sidin.
- Keterangan
perbandingan
Yang dimnaksud keterangan perbandingan adalah
keterangan yang membandingkan peristiwa atau hal predikat dengan peristiwa atau
hal lain.
Contoh : Tangannya halus seperti tangan anak
kecil.
- Keterangan
syarat
Yang dimaksud keterangan syarat adalah keterangan
yang menyatakan syarat-syarat yang harus dipenuhi supaya peristiwa predikat
dapat berlangsung.
Contoh : Jika tidak hujan saa akan datang ke
rumahmu.
- Keterangan
cara/keadaan
Yang dimaksud keterangan cara/keadaan adalah
keterangan yang menyatakan dalam keadaan apa peristiwa predikat berlangsung.
Contoh : Ia berlari sambil menangis.
- Keterangan
alat
Yang dimaksud keterangan alat adalah keterangan
yang menyatakan alat yang digunakan untuk melangsungkan peristiwa predikat.
Contoh : Ia menusuknya dengan pisau.
- Keterangan
perwatasan/pembatasan
Yang dimaksud keterangan perwatasan/pembatasan
adalah keterangan yang membatasi peristiwa predikat.
Contoh : Semua murid naik kelas kecuali Sidin.
- Keterangan
derajat
Yang dimaksud keterangan derajat adalah keterangan
yang menyatakan derajat atau tingkat peristiwa predikat.
Contoh : Ia hampir selesai.
Sebagai bahan perbandingan, berikut ini saya sampaikan pembagian jenis
keterangan versi Gorys Keraf
- Keterangan
tempat (lokatif), yaitu yang menerangkan di mana suatu peristiwa
berlangsung, biasanya dinyatakan oleh kelompok kata yang dirangkaikan
dengan kata tugas di, ke, dari, dan pada.
- Keterangan
waktu (temporal), yaitu yanag menjelaskan bilamana suatu peristiwa
berlangsung, biasanya dinyatakan dengan adverbia temporal seperti kemarin,
sekarang, besok, dan lusa atau gabungan kata-kata ang menyatakan adverbial
temporal seperti hari ini, tahun depan, dan minggu ini.
- Keterangan
alat (instrumental), yaitu yang menjelaskan dengan alat manakah perbuatan
itu dilaksanakan. Biasanya keterangan ini dinyatakan dengan kata tugas
dengan+kata benda laat.
- Keterangan
kesertaan (komitatif), yaitu keterangan yang menjelaskan keikutsertaan
seseorang dalam suatu tindakan. Biasanya dinyatakan dengan frasa dengan +
orang auatu bersama + orang.
- Keterangan
sebab (kausal), yaitu yang menjelaskan mengapa suatu perbuatan atau
tindakan dilakukan. Keterangan ini biasanya dinyatakan oleh kata-kata
tugas sebab, karena, dan oleh karena.
- Keterangan
akibat (konsekutif), yaitu ang menjelaskan hasil atau akibat yang terjadi
karena suatu perbuatan. Keterangan ini biasanya dinyatakan oleh frasa yang
didahului oleh kata-kata tugas sehingga, sampai, dan akibatnya.
- Keterangan
tujuan (final), yaitu yang menjelaskan hasil suatu perbuatan yang dengan
sengaja dikehendaki atau ingin dicapai. Keterangan ini dinyatakan oleh
frasa yang didahului oleh kata untuk, supaya, guna.
- Keterangan
pembenaran (konsesif), yaitu ang menjelaskan berlakunya suatu perbuatan
berlawanan atau bertentangan dengan keadaan atau kehendak pembicara.
Keterangan ini dinyatakan oleh frasa yang didahului oleh meskipun,
biarpun, walaupun, sekalipun, sungguhpun.
- Keterangan
pembatasan, yaitu yang menjelaskan dalam batas-batas mana suatu perbuatan
boleh dikerjakan dan mana yang tidak boleh. Keterangan ini biasanya
dinyatakan dengan frasa yang didahului oleh kata tugas kecuali, selain.
- Keterangan
suasana, yaitu keterangan yang menjelaskan bagaimana atau dalam suasana
mana suatu perbuatan dilaksanakan. Biasanya keterangan ini dinyatakan
dengan sebuah frasa yang didahului oleh dengan + kata yang menyatakan
suasana.
- Keterangana
kualitatif, yaitu keterangan yang menjelaskan dengan cara mana atau
bagaimana suatu peristiwa dilaksanakan. Biasana keterangan ini dinyatakan
dengan frasa dengan + kata sifat.
- Keterangan
kuantitatif, yaitu yang menjelaskan berapa kali suatu proses berlangsung.
- Keterangan
perbandingan, yaitu yang menjelaskan bagaimana suatu perbuatan
dibandingkan dengan perbuatan yang lain. Kata-kata tugas yang biasa diakai
untuk menyatakan keterangan ini adalah sama, sebagai, laksana, umpama.
- Keterangan
modalitas, yaitu keterangan yang menjelaskan bahwa suatu proses berlaku
secara subyektif, yaitu seperti yang dikehendaki atau ditafsirkan oleh
pembicara. Ada beberapa macam keterangan modalitas, yaitu
1) keterangan kondisional (syarat)
2) keterangan kepastian
3) keterangan kemungkinan (potensial)
4) keterangan keragu-raguan (dubitatif)
5) keterangan harapan (optatif)
6) keterangan keinginnan (desideratif)
7) keterangan ajakan (adhortatif)
- Keterangan
aspek, yaitu keterangan yang menjelaskan terjadinya suatu proses secara
obyektif. Keterangan ini sering dikacaukan dengan dua hal lain yaitu
keterangan waktu dan kala (tense). Keterangan waktu terbatas pada
penunjukan waktu seperti kemarin, besok, dan lusa. Sebaliknya kala adalah
kategori gramatikal katakata kerja yang menyatakan berlangsungnya suatu
perbuatana dalam waktu tertentu. Beberapa keterangan aspek adalah
1) aspek inkoatif, yaitu ang menyatakan suatu
peristiwa atau perbuatan mulai terjadi.
2) aspek kompletif atau persfektif, yaitu
yang menjelaskan bahwa suatu peristiwa telah selesai atau telah berakhir.
3) Aspek inkonpletif atau duratif, yaitu ang
menjelaskan bahwa suatu proses belum selesai atau masih berlangsung.
4) Aspek futuratif, yaitu yang menjelaskan
bahwa suatu perbuatan akan terjadi.
5) Aspek repetitif, yaitu yang menjelaskan
bahwa suatu proses terjadi sekali lagi.
6) Aspek frekuentatif, yaitu yang menjelaskan
bahwa suatu perbuatan terjadi berulang-ulang.
7) Aspek spontanitas (serta merta) yaitu yang
menjelaskan bahwa suatu proses terjadi dengan tidak disangka-sangka.
Obyek
Obyek sebenarnya bukan merupakan gatra tersendiri,
melainkan merupakan keterangan/pelengkap penderita, tetapi ada beberapa macam
obyek yang dapat dipindah-pindahkan tempatnya sehingga boleh dikatakan
merupakan gatra tersendiri. Ada beberapa macam obyek, yaitu
- obyek
penderita
yaitu obyek yang dikenai peristiwa predikat.
Apabila dipasifkan kata yang berfungsi sebagai obyek itu akan menduduki fungsi
subyek.
Contoh : Ayah membeli kambing.
- obyek
pelaku
yaitu obyek yang menyebutkan pelaku peristiwa
dalam kalimat pasif.
Contoh : Buku itu dibeli oleh Sidin.
- obyek
ber-kata depan
yaitu pelengkap predikat yang didahului sebuah
kata depan.
Contoh : Ia tahu akan kewajibannya.
- obyek
semu (pelengkap)
yaitu bagian predikat yang tampaknya merupakan
pelengkap tetapi hanya meruapakn suatu kesatuan dengan predikat itu.
Contoh : Ia berjualan kuda.
- obyek
langsung dan tak langsung
ada kalanya sebuah kata kerja
memerlukan dua pelengkap. Ada yang langsung dikenai pekerjaan (disebut obyek
langsung), ada yang secara tidak langsung (disebut obyek tidak langsung). Teeuw
berpendapat bahwa obyek tak langsung termasuk predikat sehingga hanya ada satu
obyek.
Contoh : Ayah membelikan adik
sepasang sepatu.
III.
JENIS KALIMAT
Pembagian kalimat
Berdasarkan jumlah inti yang membentuk sebuah
kalimat
- Kalimar
minor, ialah kalimat yang hanya mengandung satu unsur inti atau unsur
pusat.
- Kalimat
mayor, ialah kalimat yang sekurang-kurangnya mengandung dua unsur inti.
Berdasarkan kontur (suatu bagian dari arus ujaran yan diapit oleh
kesenyapan) yang ada pada sebuah kalimat
- Kalimat
minim, ialah kalimat yang hanya mengandung satu kontur.
- Kalimat
panjang, ialah kalimat yang mengandung dua kontur atau lebih
Berdasarkan pola dasar yang dimiliki kalimat
- Kalimat
inti, ialah kalimat yang memiliki ciri terdiri dari dua kata, berpola S-P,
dan intonasinya netral.
- Kalimat
luas, ialah kalimat inti yang sudah diperluas dengan kata-kata baru
sehingga tidak hanya terdiri dari dua kata.
- Kalimat
transformasi, ialah kalimat inti yang sudah mengalami perubahan baik
berupa penambahan kata maupun perbanyakan unsur inti.
Berdasarakan ragam kalimat
- Kalimat
aktif, yaitu kalimat yang subyeknya menjadi pelaku (agens) dari perbuatan
yang menjadi predikat kalimat.
- Kalimat
pasif, yaitu kalimat yang subyeknya menjadi penderita (patiens) akibat
perbuatan ang menjadi predikat kalimat.
Berdasarkan urutan kata.
- kalimat
normal, ialah kalimat yang subyeknya mendahului predikat.
- kalimat
inversi, ialah kalimat yang predikatnya mendahului subyek.
Berdasarkan tujuan dan sasaran yang akan dicapai
- Kalimat
berita
- Kalimat
tanya
- Kalimat
perintah
- Kalimat
harapan
- Kalimat
pengandaian.
Berdasarkan jumlah klausanya
- Kalimat
tunggal, ialah kalimat yang hanya terdiri dari sebuah klausa.
- Kalimat
majemuk, ialah kalimat ang terdiri dari dua klausa atau lebih.
Kalimat Majemuk
Yang dimaksud kalimat majemuk setara ialah kalimat
majemuk yang klausa-klausanya sama tinggi kedudukannya.
Yang dimaksud kalimat majemuk bertingkat adalah
sebuah kalimat majemuk yang salah satu klausanya menduduki suatu gatra (salah
satu gatranya berupa klausa). Klausa yang merupakan sebuah gatra dalam klausa
lain disebut klausa anak. Klausa yang salah satu gatranya berupa sebuah klausa
disebut klausa induk.
Ada tiga
pedoman untuk membedakan kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat,
yaitu
a. letak kata penghubung
Pada kalimat majemuk setara kata penghubung selalu
ada di antara klausa yang dihubungkan, sedanagkan pada kalimat majemuk
bertingkat (kecuali dalam beberapa hal) posisinya dapat di antara kedua klausa
yang dihubungkan, dapat pula pada awal kalimat.
Contoh : Sidin pergi ke Jakartaa tetapi adiknya
tinggal di rumah. (setara)
Ia pergi ketika kita mengunginya. (bertingkat)
Ketika kita mengunjunginya, ia pergi. (bertingkat)
b. macam kata penghubung
Kata penghubung yang digunakan di dalam kalimat
majemuk setara jumlahnya tidak banyak, antara lain dan, bahkan, lalu, atau,
tetapi, hanya, jadi.
Kata penghubung yang digunakan dalam kalimat
majemuk bertingkat antara lain ketika, sebelum, sesudah, sehingga.
c. lagu/intonasi
Pada kalimat majemuk setara lagu kalimat mempunyai
dua puncak, jadi terbagi menjadi dua makrosegmen, sedangkan pada kalimat
majemuk bertingkat intonasinya hanya mempunyai satu puncak. Dengan demikian
lagu pada kalimat majemuk bertingkat sama seperti lagu pada kalimat tunggal.
Contoh : Uangnya banyak tetapi hidupnya tidak
tenteram.
Meskipun uangnya banyak, hidupnya tidak tenteram.
Macam Kalimat Majemuk Setara
Menurut hubungan yang ada di antara klausa-klausa
yang kedudukannya sederajat, kalimat majemuk setara dibedakan menjadi tiga,
yaitu
- kalimat
majemuk setara yang klausa-klausanya disambung.
Kelompok ini dapat dibedakan lagi menjadi
- hubungan menyambung biasa (dan, sedang)
Ia
pergi ke Jakarta dan adiknya tinggal di rumah
- hubungan menyambung menguatkan (bahkan)
Ia
tidak mempunyai tempat tinggal bahkan pakaiannya hanya selembar.
- hubungan menyambung mengatur (lalu, kemudian)
Ia
pergi ke Jakarta lalu keesokan harinya ia terbang ke Medan
- Kalimat
majemuk setara yang klausa-klausanya dipertentangkan.
Kelompok ini dapat dibedakan lagi menjadi
-
mempertentangkan
biasa (tetapi, namun)
Ia bodoh tetapi kakaknya pandai sekali.
-
mempertentangkan
mengganti (atau)
Engkau
tinggal di rumah atau ikut pergi ke Jakarta?
-
mempertentangkan
mewatasi (hanya)
Semua murid naik kelas hanya si Ali yang
harus tinggal setahun lagi.
- Kalimat
majemuk setara yang klausa-klausanya ada hubungan sebab-akibat (jadi,
karena itu).
Ia belajar dengan sungguh-sungguh jadi nilainya bagus.
Macam Kalimat Majemuk Bertingkat
Seperti telah dikemukakan di atas dalam kalimat
majemuk bertingkat klausa anak menjadi bagian dari klausa induk dan menduduki
salah satu gatra atau sebagai bagian dari salah satu gatra.
Kalimat majemuk bertingkat dibedakan berdasarkan
klausa anaknya.
- KMB
dengan klausa anak subyektif (pengganti subyek)
Contoh : Bahwa saudaranya sudah datang dari
Jakartaa belum diketahuinya.
- KMB
dengan klausa anak predikatif (pengganti predikat)
Contoh : Pohon itu tingginya sepuluh meter.
- KMB
dengan klausa anak menduduki fungsi obyek penderita
Contoh : Ia menyangka bahwa musuh telah
mengundurkan diri.
- KMB
dengan klausa anak menduduki fungsi obyek ber-kata depan
Contoh : Ia tidak tahu bahwa sahabatnya telah
meninggal dunia.
- KMB
dengan klausa anak menduduki fungsi obyek semu
Contoh : Ia berpendapat bahwa kendnaraan itu baik
sekali.
- KMB
dengan klaua anak menduduki gatra keterangan waktu
Contoh : Ia masih kecil ketika keluarganya pindah
ke Bandung.
- KMB
dengan klausa anak menjadi gatra keterangan sebab.
Contoh : Ia dibenci tetangganya karena kelakuannya
kurang baik.
- KMB
dengan klausa anak menjadi gatra keterangan tujuan
Contoh : Ia belajar sungguh-sungguh supaya
nilainya bagus.
- KMB
dengan klausa anak menjadi gatra keterangan perlawanan
Contoh : Meskipun hidupnya sederhana, ia
berbahagia.
- KMB
dengan klausa anak menjadi gatra keterangan syarat
Contoh : Jika hari tidak hujan, ia akan datang.
- KMB
dengan klausa anak menjadi gatra keterangan kata
Contoh : Orang yang timpang kakinya itu komandan
saya.
URL : www.agsuyoto.wordpress.com
E-mal : agsuyoto@gmail.com
Phone : 081328050531
Komentar
Posting Komentar