Tanggapan Mengenai Seragamisasi Di Unnes Dengan Pendekatan Kebudayaan

 

Nama   : Inayah Wulansafitri

Nim     : 2111415023

Teori Budaya, Rombel 1

Tanggapan Mengenai Seragamisasi Di Unnes Dengan Pendekatan Kebudayaan

            Baru-baru ini Unnes menerapkan seragamisasi terhadap mahasiswa angkatan 2016. Menurut saya penyeragaman ini diterapkan agar adanya rasa sama terhadap mahasiswa, adanya kerapian dan ketertiban yang bersifat universal, dikaitkan dengan budaya yang memiiki sifat universal. Lain halnya apabila penerapan ini hanya berjalan pada beberapa mahasiswa saja. Berdasarkan unsur-unsur yang ada pada kebudayaan yaitu : alat-alat teknologi, sistem ekonomi, keluarga, kekuasaan pollitik. Unsur keluarga ini yang mungkin menjadi acuan seragamisasi, untuk memunculkan rasa kekeluargaan maka diadakan seragamisasi ini, namun pendapat atau pemikiran mahasiswa tidak semuanya setuju. Ada juga yang tidak mengikuti seragamisasi ini, misalkan di fakultas Hukum yang menolak keras dengan adanya penyeragaman ini. Mereka memiih untuk memakai pakaian bebas dan tidak perlu sama untuk menjadi keluarga. Menurut saya juga tidak perlu diadakan penyeragaman itu, meski tujuannya baik namun entah bagaimana penyeragaman itu justru menimbulkan rasa aneh bagi mahasiswa, apalagi sebagai mahasiswa FBS. Dengan adanya penyeragaman itu tidak terlihat seperti orang seni, justru mahasiswa akan terlihat seperti pegawai kantoran.

             Mahasiswa bersikap menyerah dan semata-mata bertindak di dalam batas-batas untuk menaati peraturan penyeragaman. Dalam fungsi budaya terdapat pakaian dan perhiasan. Mereka memakai seragam karena itu sebuah aturan yang harus ditaati. Dalam mewujudkan norma dan nilai-nilai sosial yang sangat perlu utnuk mengadakan tata-tertib dalam pergaulan kemasyarakatan. Mereka berupaya untuk melindungi diri terhadap kekuatan-kekuatan lain yang ada di lingkungan kampus. Kekuatan yang tidak selamanya baik, dan tidak buruk juga. Mereka terpaksa melakukannya dengan cara menciptakan kaidah-kaidah yang pada hakikatnya merupakan petunjuk  tentang bagaimana harus bertindak dan berlaku. Bagi mahasiswa yang setuju, mereka tidak akan merasa terpaksa. Justru mereka akan lebih nyama untuk bertindak. Mereka menyesuaikan perilaku terhadap pakaiannya yang rapid an tertib. Akan terlihat lebih wibawa sebagai seorang mahasiswa.

            Pada intinya, penyeragaman yang diterapkan di Unnes bukanlah suatu kebudayaan karena penerapannya yang kurang menyeluruh dan adanya pro kontra. Mungkin akan menjadi suatu kebudayaan beberapa tahun ke depan namun bukan sekarang yang masih tahap baru-baru.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Unsur Bawahan Langsung & Teori Tagmemik

Contoh Penggunaan Bahasa Indonesia (sebagai bahasa penyerap) dan Analisis Interferensi Fonologis, Morfologis, dan Sintaksis

ANALISIS LINGUISTIK STRUKTURAL