Tugas Teori Linguistik
Nama : Inayah Wulansafitri
Nim : 2111415023
Rombel : Linguistik
Tugas Teori
Linguistik
Jelaskan sejarah linguistik dan aliran-aliran linguistik dari
berbagai sumber!
Linguistik dari Segi Sejarah
F. de Saussure mengatakan bahwa sejarah linguistik dapat
dibagi atas tiga tahap perkembangan, yakni :
1.
Tahap grama. Studi ini
diusahakan oleh orang-orang Grika yang kemudian dilanjutkan oleh ahli-ahli
Perancis. Dasar pemikiran mereka bertitik tolak dari logika. Tahap ini lebih
banyak memberikan aturan-aturan dalam bahasa, mana yang salah/benar, normative
dan terbatas.
2.
Tahap filologi. Diusahakan oleh
orang-orang Alexandria, misalnya Friedrich August Wolf. Bahasa bukanlah objek.
Pekerjaan mereka lebih banyak membuat penafsiran terhadap teks-teks yang ada.
Studi tertuju pada sastra, adat istiadat.
3.
Tahap perbandingan atau yang
biasa disebut comparative philology. Pada tahap ini para ahli
memperbandingkan bahasa yang satu dengan
bahasa yang lain. Misalnya, Frans Bopp dalam buku Uber das Conjugation system
der Sanskrit sprache memperbandingkan bahasa Sanskrit, Jerman, Grika, dan
Latin.
Dr. Mansoer Pateda membagi atas tiga periode:
A.
Periode Awal
1.
Masa India
Di
India orang mempelajari bahasa untuk tujuan ritual, artinya dengan mempelajari
bahasa (Sanskerta) secara lebih saksama, mereka dapat mengucapkan doa-doa yang
terdapat dalam buku-buku Veda secara lebih baik. Mempelajari bahasa di India
ditujukan untuk kepentingan agama. Bunyi-bunyi bahasa dipelajari bukan untuk
mengetahui hakikat bahasa tetapi semata-mata untuk menjaga hikmah yang terdapat
dalam buku-buku Veda.
2.
Masa Yunani
Di
Yunani orang mempersoalkan mengapa terjadi peristiwa-peristiwa bahasa. Mereka
yang bergerak dalam bidang bahasa pada waktu itu adalah filosof. Pada waktu itu
misalnyaa, Plato terkenal dengan percakapan yang berjudul Kratylos atau
Cratylus mempersoalkan hubungan antara lambang dan acuannya. Socrates (460-399
SM) berpendapat bahwa lambang harus sesuai dengan acuan. Sedangkan, Aristoteles
(384-322 SM) berpendapat bahwa hubungan antara lambang dan acuan bersifat
konvensional. Mereka pun mempersoalkan kelas kata. Plato membaginya atas onoma
dan rhema, Aristoteles menambahkan syndesmoi. Oleh kaum Stoa yang berkembang
pada awal abad ke-4SM, kelas kata di atas diperluas menjadi empat, atau lima,
yakni nomen, verbum, syndesmoi, dan arthrom. Oleh kaum Alexandrian, tokohnya
yang terkenal antara lain Dionysius Thrax, pembagian atas empat kelas tadi
diperluas menjadi delapan, yakni : onoma (kata benda), rhema (kata kerja),
metosche (partisipel), (arthrom (kata sandang), antonymia (kata ganti),
prothesis (kata depan), epirhema (kata keterangan), syndesmoi (kata sambung).
3.
Masa Romawi
Pada
masa Romawi, kelas kata yang delapan tadi ditambah satu lagi sehingga menjadi
Sembilan, yaitu numeralia (kata bilangan). Tokoh Romawi yang secara hati-hati
membahas bidang linguistik bahasa Latin ialah Varro (116-27SM). Varro mengarang
buku yang berjudul De Lingua Latina yang terdiri dari 25 jilid. Dalam buku
tersebut, dibicarakan etimologi, morfologi dan sintaksis. Selain Varro masih
ada ahli bahasa yang hidup pada waktu itu yang dapat dimintai keterangannya
ialah Priscia yang kemudian dikenal sebagai peletak dasar tata bahasa Priscia.
Priscia membagi kelas kata menjadi : nomen, verbum, participium, pronomen,
adverbiu, praepostio, interjection, conjuntio.
Pada
masa Romawi, berkembang pula kebudayaan Yunani yang disebut Hellenisme.
Pengaruh Hellenisme terdapat pada Alexandria di mana ilmu pengetahuan disoroti
berdasarkan ajaran Stoa. Kaum Stoa membedakan tiga aspek bahasa: (a) tanda,
symbol, sign yang disebut senainon, (b) makna atau semainomenon atau lekton dan
(c) hal-hal external atau situasi atau to pragma atau to tungchanon.
4.
Masa Pertengahan
Ciri
utama masa ini ialah peranan utama yang dipegang oleh sistem pendidikan Latin.
Yang berkembang pada masa pertengahan ini ialah Skolastik. Skolastik adalah
suatu cara mempelajari ilmu yang diperoleh di biara-biara, pertemuan alim
utama, dan di sekolah-sekolah di istana. Pada masa pertengahan ini, perhatian
lebih banyak ditujukan kepada bahasa Romawi meskipun kerajaan Romawi telah
lenyap. Tujuan ahli tata bahasa pada waktu itu ialah mencari persesuaian antara
peristiwa-peristiwa bahasa dan prinsip teori yang telah disusun lebih dahulu.
Pada
masa pertengahan ada dua hal yang perlu dikemukakan sehubungan dengan
perkembangan linguistik. Kedua hal itu ialah munculnya kaum Modistae dan tata
bahasa spekulatif. Kaum Modistae mengagung-agungkan unsur semantik. Pikiran
manusia dapat menangkap pengertian yang ada pada konsep baik secara aktif maupun
pasif. Daya tangkap secara aktif mereka sebut modi itellegendi active dan pasif
dengan sebutan modi intellegendi passive.
Dalam
bahasa, pikiran ini dialihkan ke dalam bunyi-bunyi atau kegiatan aktif yang
dibagi atas bentuk kata dan bagian ujaran.
5.
Masa Renaissance
Kata
Renaissance berhubungan dengan kata renaitre yang bermakna lahir kembali.
Renaissance adalah masa kehidupan kembali usaha mempelajari zaman kuno. Pada
masa Renaissance yang sangat berpengaruh adalah humanisme.
B.
Periode Perkembangan
Kalau pada periode awal, kita melihat bahwa
bahasa dianggap sebagai “alat” maka pada periode perkembangan bahasa harus
diselidiki sebagai bahasa. Untuk menelusuri perkembangan linguistik pada
periode ini kita terpaksa melihatnya dari kemajuan yang terdapat pada tiap abad
yang kita mulai dari perkembangan pada abad ke-18.
1.
Abad ke-18
Pada
abad ke-17, perhatian para sarjana tidak lagi terbatas pada bahasa di Eropa
atau Eropasentris tetapi perhatian telah diarahkan kepada bahasa-bahasa di luar
Eropa. Hal ini dilanjutkan lagi pada abad ke-18, bahkan pada abad itulah
dilakukan pengumpulan bahasa secara besar-besaran yang antara lain dilakukakn
oleh misionaris-misionaris.
Sarjana yang
mengumpulkan bahasa secara besar-besaran ini misalnya P.S. Pallas yang dengan
bantuan Ratu Rusia, Katharina II, berhasil mengumpulkan kata-kata dari 272
bahasa di Eropa, Asia, dan Amerika. Lorenzo Hervasy Panduro membuat ikhtisar
tata bahasa dari 300 bahasa, 40 di antaranya adalah bahasa Indian Amerika.
Abad
ke-18 biasa disebut Age of Reason, di mana pikiran sangat didewa-dewakan.
Segala sesuatu dilihat dari segi akal, rasio. Sebenarnya perhatian sarjana
untuk membanding-bandingkan bahasa telah berlangsung lama.
2.
Abad ke-19
Abad
ke-19 dianggap sebagai abad mulai majunya linguistik, terutama mengenai
linguistik historis komparatif.
a.
E.B. Condillac
Pada
tahun 1746 ia menyiarkan karangan yang berjudul “Essai Sur L’ Originale Des
Connoissanes” yang mempersoalkan bahasa. dia berpendapat bahwa asal mula bahasa
berpangkal pada bunyi-bunyi alamiah berupa teriakan-teriakan karena emosi yang
kuat. Dari generasi ke generasi bunyi itu makin bertambah, bahkan anak yang
lahir dengan lidah yang sudah mampu menciptakan bunyi yang berlainan, yang
maknanya harus diterka oleh orang tuanya, malah kadang-kadang orang tua mereka
yang harus meniru bunyi-bunyi tadi.
b.
Johann Gotfried Herder
(1744-1804)
Ia
mengemukakan teori baru tentang asal mula bahasa. Herder menyatakan bahwa
bahasa tak mungkin berasal dari Tuhan karena bahasa terlalu buruk dan tidak
sesuai dengan logika. Baginya bahasa timbul karena suatu dorongan hati yang
berakar dari kesadaran dan kecerdasan manusia. Bahasa manusia mula-mua berupa
nyanyian, jadi terdiri dari segala bunyi yang langsung atau tidak langsung
berasal dari bunyi yang ada di sekitarnya.
c.
Fridrich von Sclegel dan A.W
Schlegel
F.
von Schlegel (1772-1829) sejak tahun 1803 mempelajari bahasa Sanskerta dengan
bantuan orang Inggris yang bernama Hamilton. Menurut pendapat F. von Schlegel
ada dua kelompok bahasa, yakni:
a. Bahasa yang
bermacam-macam makna yang ditentukan oleh perubahan bunyi dalam root (bahasa
fleksi).
b. Bahasa yang
bermacam-macam makna yang disebabkan oleh afiks.
d.
Wilhelm von Humboldt
(1767-1835)
Humboldt
adalah penegak pertama linguistik umum. Beliau adalah seorang ahli tata negara,
filologi klasik, filsafat, dan belletri (sastra indah). Dari tahun 1802-1819
Humbolds
e.
R.K. Rask (1787-1832)
Rask
adalah sarjana bangsa Denmark yang dilahirkan dalam gubuk kecil. Tahun 1818
terbit bukunya yang berjudul Undersogelse om det gamenordiske eller is landske
Sprongs Oprindelse (Penyelidikan tentang asal mula bahasa Nur kuno atau
Islandia). Pendapat Rask yang sangat penting adalah pergeseran bunyi di dalam
bahasa-bahasa Jerman yang kemudian dikonkretkan oleh J. Grimm. Rask menyatakan
kalau ada persamaan antara dua bahasa, maka hal itu disebabkan oleh
kekeluarhaan bahasa tersebut.
f.
Franz Bopp (179-1867)
Franz
Bopp ialah seorang tokoh dalam ilmu perbandingan bahasa-bahasa Indo-Jerman. Ia
tahu tentng bahasa Sanskerta. Sehubungan dengan klasifikasi bahasa Franz Bopp
membagi bahasa:
a.
Bahasa-bahasa tanpa akar dan
tanpa tenaga pembentukan.
b.
Bahasa-bahasa dengan akar kata
yang terdiri dari satu suku kata.
c.
Bahasa-bahasa dengan akar kata
yang terdiri dari dua suku kata dan tiga konsonan mutlak.
g.
Jacob Grimm (1785-1863)
Grimm
adalah seorang anak ahli hukum. Grimm membedakan tiga periode bahasa yakni
periode periode pertama berupa penciptaan dan pertumbuhan akar kata dan
kata-kata, periode kedua berupa kejayaan fleksi, dan periode ketiga berupa
makin lenyapnya fleksi. Grimm sebenarnya bukanlah ahli fonetik, tetapi jasanya
yang utama yakni membuka jalan ke ilmu bunyi. Oleh karena itu, kalau kita
berbicara tentang pergeseran bunyi, maka sebenarnya dapat disebut pergeseran
konsonan saja.
h.
A. Schleicher (1821-1868)
Schleider
adalah ahli linguistik meskipun bahasa yang betul-betul dikenalnya adalah
bahasa Slavia dan Lithaunia, mempelajari bahasa Ceko dan dapat berbicara dalam
bahasa Rusia. Schleicher berpendapat bahwa pertumbuhan bahasa bersifat
historis, tetapi pertumbuhan itu didapati dalam alam dengan bentuk yang
semurni-murninya. Pertumbuhan bahasa tergolong kepada aktivitas rohaniah yang
bebas.
3.
Kaum “80” dan sesudahnya
Pada
kaum “80” ini, ilmu bunyi berkembang dengan pesat. Kemajuan ilmu bunyi itu
berkat jasa W.D. Whitney.
C.
Periode Pembaharuan
Pada periode ini para sarjana
menitikberatkan perhatian mereka pada persoalan bahasa saja.
1.
Fedinand de Saussure
(1857-1913)
F.
de Saussure lebih terkenal karena bukunya “Cours de Linguistique Generale
(1916)” yang merupakan rangkaian kuliahnya antara tahun1906-1911. Berdasarkan
konsep-konsepnya, ia sering disebut sebagai bapak linguistik modern.
Konsep-konsepnya yaitu:
Konsep
linguistik diakronis dan linguistik sinkronis, konsep la langue, la parole, le
langage, konsep form dan substance, konsep significant dan signifie, konsep
syntagmatic dan paradigmatic.
2.
L. Bloomfield
Bloomfield
adalah bapak linguistik karena dialah yang menjadikan linguistik sebagai ilmu
yang otonom. Dia menjadi terkenal karena konsep yang dibawanya ternyata menjadi
aliran tersendiri dalam linguistik yang kemudian terkenal dengan aliran
Bloomfield atau aliran struktural. Bloomfield melihat bahwa apapun yang kita
ucapkan pasti mempunyai struktural.
3.
Kenneth L.Pike
Pandangan
Kanneth Pike sebenarnya bermula dari paham Bloomfield. Paham Pike ini tentang
istilah tagmeme. Pike mengemukakan paham tagmemik. Dalam teori tagmemik, unit
terkecil yang berfungsi dalam ujaran disebut tagmeme.
4.
Noam Chomsky
Noam
Chomsky adalah seorang guru besar linguistik di MIT, yan gmerupakan murid dari
S.Z Harris. Chomsky menjadi sangat terkenal dengan bukunya yang berjudul
Syntactic Structures (1957). Dengan munculnya buku ini, timbul fase lingustik
baru, revolusi ilmiah dalam bidang lingustik.
5.
Charles Fillmore
Fillmore
menyusun teori sintaksisnya berdasarkan kasus yang oleh Verhaar (1981:90)
diistilahkan dengan pena.
Beberapa Teori dan Aliran Dalam Linguistik
A.
Teori Tradisional
Teori tradisional didasarkan terutama pada
analisis makna. Selain analisisnya berdasarkan makna, tata bahasa tradisional
tidak memperhatikan hierarki dalam bahasa sehingga batas antara satuan-satuan
gramatik yang satu dengan yang lain, tidak jelas.
Ciri-ciri teori tradisional:
1.
Bertolak dari pola pikit secara
filosofis
2.
Tidak membedakan bahasa dan
tulisan
3.
Senang bermain dengan definisi
4.
Pemakaian bahasa berkiblat pada
pola/kaidah
5.
Level-level gramatik belum
ditata secara rapi
6.
Tata bahasa didominasi oleh
jenis kata
B.
Aliran Struktural (Aliran
Taksonomik)
Aliran struktural merupakan penamaan
pendekatan kebahasaan yang dilakukan oleh L. Bloomfield. Itulah sebabnya aliran
ini disebut pula Bloomfieldisme. Aliran ini melihat bahasa dari segi
strukturnya. Makna ditentukan oleh struktur. Dari tataran linguistik, maka
fonologi dan morfologi yang terbanyak diperhatikan oleh kaum strukturalis. Kaum
struktural mengadakan klasifikasi kata dengan dasar bentuk dan lingkungan.
Untuk itu kata dibagi atas dua golongan besar melihat sifatnya, yakni:
a.
Kata yang bersifat terbuka
b.
Kata yang bersifat tertutup
Teori ini berlandaskan pola
pemikiran secara behavioristik. Semula aliran struktural ini menempatkan bentuk
dan makna dalam kedudukan yang seimbang, namun dalam perkembangannya menjadi
beraneka versi. Ciri-ciri aliran ini adalah:
1.
Berlandaskan pada paham
behavioristic
2.
Bahasa berupa ujaran
3.
Bahasa berupa sistem tanda
4.
Bahasa merupakan faktor
kebiasaan
5.
Kegramatikalan berdasarkan
keumuman
6.
Level-level gramatikal
ditegakkan secara rapi
7.
Tekanan analisis pada bidang
morfologi
8.
Bahasa merupakan deretan
sintakmatik dan paradigmatic
9.
Analisis bahasa secara deskriptif
10.
Analisis struktur bahasa
berdasarkan unsur langsung
C.
Aliran Kopenhagen
Tokoh aliran ini adalah Louis Hjemslev.
Aliran ini memperkenalkan istilah glissematics dalam linguistik. Aliran ini
mencoba memberi definisi gejala bahasa secara matematis/
D.
Aliran Praha
Tokoh aliran ini adalah N. Trubetzkoj dan R.
Jacobson. Aliran Praha mengembangkan juga paham netralisasi. Misalnya, korelasi
bersuara berfungsi di depan vocal, tetapi pada akhir kata taka da oposisi.
E.
Teori Tagmemik
Pelopor teori ini adalah Kenneth Lee Pike.
Menurut teori ini, satuan yang paling kecil adalah tagmeme. Ada dua hal yang
perlu disinggung lagi dalam teori ini. Kedua hal itu ialah:
a.
Perbedaan antara etic dan emic
b.
Hierarki tagmemik
Penamaan
teori tagmemik ini berangkat dari konsep tagmen. Secara relatif teori ini
memang boleh dikatakan masih cukup baru. Pada garis besarnya teori ini terbagi
atas dua generasi. Generasi pertama dan generasi kedua.
F.
Teori Stratifikasi
Teori ini ditokohi oleh Sydney M. Lamb yang
menulis buku Outline of Stratificational grammar, yang terbit pada tahun 1962.
Teori ini menganggap bahwa bahasa merupakan sistem yang berhubungan . Karena
teori ini menganut sistem statis, maka mereka menolak aturan mutase.
G.
Teori Konteks
Konsep teori ini ditokohi oleh antropolog
Inggris Bronislow Mallinowski. Dia berpendapat bahwa untuk memahami uajran,
harus diperhatikan konteks situasi. Berdasarkan analisis konteks situasi itu,
kita dapat memecahkan aspek-aspek bermakna bahasa sehingga aspek linguistik dan
aspek nonlinguistic dapat dikorelasikan.
H.
Aliran Transformasi
Aliran ini ditokohi oleh Noam Chomsky, yang
kemudian terkenal dengan sebutan tata bahasa transformasi. Menurut teori ini,
tiap manusia menggunakan bahasa yang tercermin dalam kalimat-kalimat. Tiap
kalimat yang lahir bagaimanapun bentuknya, terdiri dari sejumlah elemen dasar
dan mempunyai struktur. Menurut teori ini, setiap bahasa harus memenuhi dua
syarat, yakni:
a.
Kalimat yang dihasilkan harus
kalimat yang berfungsi dalam ujaran.
b.
Istilah yang dipakai jangan
hanya didasarkan pada satu bahasa saja, tetapi harus bersifat sejagat.
Ciri-ciri
aliran transformasional ini adalah sebagai berikut:
1.
Berdasarkan paham mentalistik
2.
Bahasa merupakan innate
3.
Bahasa terdiri atas lapis dalam
dan lapis permukaan
4.
Bahasa terdiri atas unsur
competent dan performance
5.
Analisis bahasa bertolak dari
kalimat
6.
Bahasa bersifat kreatif
7.
Membedakan kalimat inti dan
kalimat transformasi
8.
Analisis diwujudkan dalam
bentuk rumus dan diagram pohon
9.
Gramatikal bersifat generative
I.
Teori Semantik Generatif
Teori ini berpendapat bahwa struktur
semantik dan struktur sintaksis bersifat homogeny. Untuk menghubungkannya cukup
digambarkan oleh satu jenis kaidah, yakni transformasi. Teori semantik
generative muncul tahun 1968. Teori ini tiba pada kesimpulan bahwa tata bahasa
terdiri atas struktur dalamyang berisi tidak lain daripada struktur semantik
dan struktur luar yang merupakan perwujudan ujaran.
J.
Teori Kasus
Pelopor teori kasus adalah Charles Fillmore.
Yang dimaksud dengan kasus ialah hubungan antara verba dan nomina dalam struktur
semantik. Teori ini muncul akibat penelitian para linguis tentang bahasa-bahasa
di Filipina, misalnya bahasa Tagalog.
Sumber:
Pateda, Mansoer. 2011. Linguistik
Sebuah Pengantar. Bandung: Angkasa
Soeparno. 2002. Dasar-dasar
Linguistik Umum. Yogyakarta: Tiara Wacana
Komentar
Posting Komentar